Sabtu, 06 Juni 2009

Telaga Hati




KEHIDUPAN

Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang, Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Apakah itu gelas atau telaga yang luas. Seandainya hatimu adalah gelas maka pada saat segenggam garam dicampur dengan segelas air , maka akan terasa pahit, manakala segenggam garam itu ditaburkan di telaga, apa yang akan dirasakan, terasakah garam itu, air itu tetap segar.
Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakan segalanya. Itu akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup , hanya ada satu hal yang bisa kamu lalukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.